SEMENDE BERADATKAN TUNGGU TUBANG

Muara Enim//Linksumsel-Semende Raya berada di kawah lembah bukit barisan, diwilayah yang di selimuti kabut pagi dan udara dingin yang menusuk tulang, Semende ini dengan ketinggian dari permukaan laut dari 900 sampai dengan 1800 dari permukaan laut, berdiri sebuah Negeri tua yg kekuatannya yang tidak berasal dari perang atau perdagangan laut melainkan dari tanah sawah dan kearifan bertani, Negeri itu dinamakan Semende, sebuah kerajaan adat di pegunungan atau perbukitan yang memerintah dengan cangkul lumbung padi dan hukum adat Tunggu Tubang yang ketat karena itulah Semende di kenal sebagai kerajaan tani di lereng perbukitan bukit barisan.

Semende terletak di dataran tinggi di bukit barisan Sumatera Selatan.

Semua wilayah adat awal Semende dibagi tiga kecamatan, Semende Darat Ulu ( SDU ), Semende Darat Tengah ( SDT ), dan Semende Darat Laut ( SDL ), di Kabupaten Muara Enim.
Selama ratusan tahun, wilayah adat tersebut tetap bertahan, tidak terjual atau tergusur oleh kelompok masyarakat lain, termasuk para pelaku usaha.

Bahkan, beberapa rumah panggung kayu yang berusia ratusan tahun masih bertahan

Masyarakat adat Semende dengan sistem kekerabatannya mempunyai ciri dan bentuknya tersendiri yang tidak sama dengan daerah lain. Sistem kekerabatan pada masyarakat Semende di namakan ” Lembage Adat Semende Meraje Anak belai ” (Lembaga Adat masyarakat Semende yang mempunyai Pemimpin secara turun temurun dari anak laki laki sebelah ibu yang memimpin Tunggu Tubang atau anak Perempuan sebelah ibu).

Masyarakat Semende penduduknya 100 persen beragama Islam, disamping fanatik dalam menjalankan ajaran Agama Islam, juga kuat menjalankan aturan adat, kehidupan masyarakat Masyarakat Semende yang berpegang teguh pada Agama Islam dan prinsip prinsip adat Semende yang di sebut seganti setungguan artinya merupakan kesetiaan terhadap nilai nilai hidup bersama, falsafah dan prasetia kehidupan.

Baca juga:  Kembali di Temukan 1 Korban Tewas Diarea Sumur Ilegal, Kapolda Sumsel Berharap Komitmen Pemerintah Daerah

Apakah itu Semende ?
1. Semende itu dapat di artikan menurut bahasa Semende adalah aqad Nikah, dengan arti ikatan tali Allah dan Tali Rasulullah, karena itu Semende juga berarti Syahadatain ( dua Kalimah Syahadah ).

Menurut Etimologi ialah SE artinya menurut bahasa Semende adalah satu atau Esa yang satu hanyalah Allah Swt, disisipi Huruf M adalah Pangkal nama Nabi Muhammad Saw, sedangkan ENDE menurut bahasa Semende adalah kepunyaan. Jadi Pengertian Semende dapat di artikan Orang yang telah memiliki Kepercayaan atau mempunyai kesaksian bahwa Allah Maha Esa sebagai Tuhannya dan Muhammad Saw adalah Rasulullah.

2. Semende = Same – Nde artinya sama sama memiliki atau persamaan kedudukan, Jelasnya bahwa Semende mengajarkan semua manusia laki laki dan perempuan mempunyai persamaan derajat di hadapan Allah SWT. Dan sesama manusia dengan pembagian tugas dalam persamaan hak yang di sesuaikan dengan fitrah dan kemampuan masing masing.
3. Semende = SE-MAH-NDE yang artinya rumah kesatuan milik bersama, Semende mengajarkan supaya setiap pribadi merasa terikat dengan rumah kesatuan adat dinamakan Tunggu Tubang.

Semende ini berada di kawah lembah bukit barisan Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan dengan Iklim dingin menusuk tulang karena di kelilingi bukit bukit dengan ketinggian temperaturnya rata rata 1165 dari permukaan laut.

Luas Wilayah Semende lebih kurang 900 Km 2. Dengan batas batasnya, sebelah baratnya berbatasan dengan Kecamatan Kota Agung Lahat, yang membatasinya adalah bukit barisan dan perkebunan kopi, sebelah Timurnya berbatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu yang membatasinya bukit barisan dan Hutan belantara, sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Bengkulu yang membatasinya adalah bukit ringgit dan hutan belantara.

Sementara sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Agung yang membatasinya perkebunan kopi dan hutan belantara.

Tinggu Tubang sulit di definisikan di karenakan banyak pendapat dari para pemuka adat, pemuka masyarakat Semende yang sempat Penulis peroleh dari Masyarakat Semende yang memberikan pengertian beraneka ragam mengenai Tunggu Tubang menurut bahasa Di antaranya mengatakan Tunggu dan Tubang. Tunggu artinya menunggu atau orang yang menunggu sementara Tubang adalah Harta Pusaka.

Baca juga:  Tiang PLN Masuk Ruas Cor Proyek Pelebaran Jalan Ancam Keselamatan Warga, Aktivis Muara Enim: Lucu Ya?

Tunggu Tubang menurut Istilah antara lain :
1. Tunggu Tubang adalah salah satu fungsi kekeluargaan dalam masyarakat adat Semende.
2. Tunggu Tubang adalah tempat untuk menghimpun atau mengumpulkan keluarga besar atau Afit Jurai.

3. Tunggu Tubang adalah jabatan atau gelar yang di hibahkan kepada anak perempuan tertua yang berhak menerima hibah ( bukan Waris ) sawah dan Rumah pada Umumnya.
4. Tunggu Tubang adalah suatu keluarga yang telah memenuhi syarat Tunggu Tubang yaitu ada Sawah dan Rumah, ada penunggunya ( Tunggu Tubang ), minimal ada meraje, apa lagi sudah ada Jenang meraje, payung Meraje, dan Lebu meraje.ini namanya Tunggu Tubang Julat Junjang.

5. Suami Tunggu Tubang itu sudah menyerahkan seekor kerbau untuk di sembeleh oleh Meraje untik di makan bersama pada pesta ( bagikan ) meresmikan Tunggu Tubang tersebut.

Jadi Tunggu Tubang itu ada syarat syaratnya, jikalau sudah memenuhi persyaratan Tunggu Tubang tidak dapat lagi di perjual belikan oleh siapapun, tetapi kalau belum memenuhi syarat syaratnya belum di katakan Tunggu Tubang, itu masih dapat di perjual belikan oleh orang yang memikirnya seandainya yang punya sudah meninggal dunia, anak anaknya bisa menjualnya kalau sudah di sepakati oleh anak yang punya sawah dan rumah tersebut, seperti yang terjadi beberapa bulan lalu di desa pulau Panggung, rumah Milik Ali Saman yang di belinya pada tahun 1969, dan belum memenuhi syarat syaratnya, sawah belum ada, Tunggu Tubang belum ada, Meraje belum ada, dan telah di sepakati dengan surat kuasa oleh anak anak Ali Saman untuk di jual di atas materai di ketahui oleh Kades Setempat rumah itu sah di jual.

Baca juga:  Sambut HUT Bhayangkara Ke-78 Polsek Gunung Megang Anjangsana Ke Purnawirawan Dan Warakawuri

Dari beberapa pendapat tersebut penulis dapat menyimpulkan arti Tunggu Tubang itu adalah berasal dari kata Tunggu dan Tubang.
Tunggu berati ada orang yang menunggu, mendiami, atau menempati. Sementara Tubang adalah Harta Pusaka yaitu Rumah, sawah, Jale, Kapak, Guci, kujur/ Balau dan Tebat.
Orang yang menunggu, memelihara, atau menjaga harta pusaka tersebut itulah yang di katakan Tunggu Tubang.

Yang di katakan meraje itu semua kakak atau adik laki laki dari ibu Tunggu Tubang, berapapun jumlahnya, hanya saja dalam berbicara waktu Musyawarah atau pesta perkawinan di utamakan yang tertua kalau dia mengamanatkan dengan adek adeknya, yang di amanahkan harus menyetujuinya.

Meraje adalah pemimpin dalam Tunggu Tubang. Kepemimpinan dan pengawasan ini mempunyai tingkatan tingkatan, tingkatan tersebut adalah Meraje jenang Meraje, Payung Meraje, dan Lebu Meraje.

Lebu Meraje berfungsi sebagai pengawas tertinggi dalam Tunggu Tubang, sedangkan Payung Meraje berfungsi sebagai Pengawas Tinggi Tunggu Tubang, dan semua anggota keluarga atau afit Jurai, Jenang meraje sebagai pengawas kedua sedangkan Meraje berfungsi sebagai pengawas langsung atau pengawas tingkat pertama pada Tunggu Tubang.

Bila terjadi kesalahan yang di perbuat oleh Tunggu Tubang misalnya di Ketahui oleh Payung Meraje, maka payung meraje memanggil atau menegur Jenang Meraje untuk menyampaikan hal yang di ketahuinya.

Lalu Jenang meraje memanggil Meraje Tunggu Tubang dan membicarakan temuan payung Meraje Tersebut, akhirnya Merajelah yang menegur langsung Kepada Tunggu Tubang bahwa Tunggu Tubang telah berbuat kesalahan yang wajib di perbaiki. (j.red)

Oleh : Marshal (Putra Semende sebagai Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!