Muara Enim//Linksumsel-Bukit Balai berdiri kokoh di Desa Tenam Bungkuk, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muara Enim.
Di lereng Bukit Barisan bagian selatan Sumatera, bentang alam ini membentuk sebuah lembah yang asri, tenang, dan menyimpan keindahan yang kerap disebut masyarakat setempat bak surga kecil di pedalaman. Namun, Bukit Balai bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah simpul ingatan, ruang batin, sekaligus saksi lahir dan tumbuhnya seorang anak desa bernama Marshal.
Di lembah Bukit Balai inilah Marshal dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya. Alam, adat, dan kehidupan sosial masyarakat Semende menjadi ruang belajar pertamanya.
Nilai-nilai kebersamaan, etika hidup bermasyarakat, serta penghormatan terhadap alam tidak diajarkan melalui bangku sekolah, melainkan diserap secara alami melalui keseharian—dari cerita orang tua, petuah tetua adat, hingga praktik hidup yang dijalankan turun-temurun.
Bagi masyarakat Tenam Bungkuk dan sekitarnya, Bukit Balai memiliki makna historis dan simbolik yang mendalam. Bukit ini menjadi ruang pertemuan antara manusia, alam, dan adat.
Di sanalah nilai-nilai diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, membentuk kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Gotong royong, musyawarah, dan rasa tanggung jawab terhadap tanah dan sesama bukan sekadar konsep, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Lingkungan sosial-budaya di sekitar Bukit Balai turut membentuk karakter masyarakat Semende yang dikenal teguh memegang Adat Tunggu Tubang. Sistem kekerabatan, pengelolaan tanah ulayat, hingga tata nilai bermasyarakat berjalan seiring dalam bingkai adat yang hidup dan dijalankan.
Di ruang inilah Marshal tumbuh, menyaksikan secara langsung bahwa adat bukan sekadar simbol atau upacara, melainkan pedoman hidup yang nyata dan berfungsi.
Pengalaman lahir dan besar di Desa Tenam Bungkuk, dengan Bukit Balai sebagai latar keseharian, memberi fondasi yang kuat bagi Marshal dalam memahami relasi antara hukum adat, budaya lokal, dan dinamika sosial masyarakat.
Perspektif tersebut kemudian membentuk jalan intelektualnya sebagai pengamat sosial budaya dan hukum adat—sebuah peran yang konsisten menyuarakan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus akar lokal.
Bukit Balai, dengan segala kesederhanaan dan ketenangannya, pada akhirnya bukan hanya saksi kelahiran seorang anak desa.
Ia menjadi bagian dari perjalanan lahirnya sebuah kesadaran kritis: bahwa adat dan budaya bukan peninggalan masa lalu, melainkan fondasi masa depan yang harus dirawat, dipahami, dan diperjuangkan.
Di sanalah, di Tenam Bungkuk, kisah itu bermula. Dari sebuah lembah bukit, tumbuh pemikiran; dari tanah adat, lahir sebuah suara—yang terus mengingatkan bahwa jati diri bangsa kerap berakar kuat di desa-desa yang sunyi, namun sarat makna.
Oleh: Marshal
(Pengamat Sosial Budaya dan Hukum
Adat).(j.red).
Link Sumsel Sumber Informasi Independen