Dari Perut Bumi PALI Mengalir Energi, Tapi Pendidikan Masih Terseok

PALI//Linksumsel-Dari perut bumi Kabupaten PALI tumbuh dari sejarah panjang industri energi di Sumatera Selatan. Kawasan ini bukan daerah yang lahir tanpa fondasi ekonomi. Aktivitas migas telah hadir sejak 120 tahun lalu, membentuk denyut perdagangan, jalur distribusi, hingga perkembangan permukiman masyarakat.

Jejak industri itu bahkan menjadi bagian dari identitas daerah. PALI dikenal sebagai salah satu kawasan yang sejak lama menopang sektor energi nasional.

Alam seharusnya menghasilkan tidak hanya infrastruktur yang layak, roda ekonomi yang berputar pesat serta lebih penting lagi melahirkan SDM yang unggul dan berdaya saing.

Namun di tengah sejarah besar itu, muncul kenyataan yang berjalan lebih lambat, pembangunan sumber daya manusia yang masih sangat tertinggal.

Data kependudukan terbaru menunjukkan dari total 217.497 jiwa, sebanyak 78.800 penduduk masih berada pada kategori tidak atau belum sekolah.

Sementara 27.078 jiwa lainnya belum tamat SD. Dengan kata lain, lebih dari 105 ribu penduduk belum menuntaskan pendidikan dasar secara utuh.

Di saat yang sama, jumlah lulusan pendidikan tinggi masih relatif kecil. Lulusan S1/D4 tercatat 5.591 orang (2,6%) saja, S2 sebanyak 168 orang (0,077%), dan S3 hanya 15 orang (0,006%).

Angka-angka ini memperlihatkan bahwa perjalanan pembangunan manusia di PALI masih membutuhkan perhatian serius, terutama bila dibandingkan dengan besarnya sejarah industri yang dimiliki dan potensi SDA daerah yang ada.

Kondisi itu terasa kontras. Sebab di banyak wilayah industri, pertumbuhan sektor energi biasanya berjalan beriringan dengan penguatan kualitas hidup masyarakat, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan, hingga terbentuknya pusat-pusat SDM baru yang menopang keberlanjutan daerah.

Sementara di Kabupaten PALI, tantangan tersebut tampaknya masih menjadi pekerjaan besar lintas generasi.

Baca juga:  Rapat Paripurna DPRD PALI Molor, Rapat Tertutup di Ruang Ketua Mencuat Dugaan Soal Jatah Pokir

Ketimpangan juga terlihat di antarwilayah. Kecamatan Talang Ubi yang menjadi pusat aktivitas dan memiliki jumlah penduduk terbesar, yakni 95.644 jiwa, justru mencatat angka tertinggi kategori tidak atau belum sekolah sebanyak 33.898 orang setara 15,58% dari total penduduk PALI atau 35,44% dari penduduk Talang Ubi.

Situasi ini seperti menyisakan pertanyaan yang berjalan diam-diam di tengah masyarakat: sejauh mana sejarah panjang energi telah benar-benar menjelma menjadi fondasi kemajuan SDM di tingkat lokal?.

Sebab kekayaan alam pada akhirnya bukan hanya soal apa yang dihasilkan dari perut bumi, tetapi juga tentang seberapa jauh hasil itu membentuk kualitas kehidupan masyarakat di atasnya.

Dan mungkin, di situlah tantangan terbesar para pemangku kebijakan di Kabupaten PALI hari ini, bagaimana warisan energi selama lebih dari satu abad yang terus mengalir keluar tersebut, tidak hanya sebagai catatan produksi yang di publish dan dibangga-banggakan baik di daerah maupun diluar.

Melainkan menjadi jalan lahirnya SDM yang lebih kuat dan berdaya saing, layanan kesehatan yang lebih baik, serta generasi baru yang mampu tumbuh sejajar dengan daerah-daerah industri maju lainnya.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa tantangan pembangunan manusia di Kabupaten PALI masih membutuhkan perhatian serius dan berkelanjutan. Di tengah besarnya potensi sumber daya alam, masyarakat berharap kekuatan sektor energi dapat semakin mendorong lahirnya kualitas pendidikan, kesehatan, dan daya saing SDM lokal yang lebih baik.

Keberadaan industri-industri besar di Kabupaten PALI diharapkan tidak hanya menjadi simbol kekuatan produksi energi nasional, tetapi juga mampu menghadirkan lompatan pembangunan manusia secara nyata di tingkat lokal.

Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah bukan hanya diukur dari apa yang dihasilkan dari perut bumi, melainkan dari seberapa besar manfaatnya dirasakan dalam kualitas hidup masyarakatnya.

Baca juga:  Polres Pali Menghadiri Rakerda di Sanggar Pramuka

Di situlah diperlukan pergerakan dan kekompakan seluruh elemen, baik eksekutif, legislatif, dunia industri, maupun masyarakat, agar sejarah panjang lebih 1 Abad energi di tanah PALI benar-benar menjadi fondasi lahirnya generasi yang lebih unggul dan berdaya saing.

Diusia ke-13 tahun Kabupaten PALI sejak ditetapkan sebagai daerah otonomi baru pada tahu 2013 silam, pekerjaan rumah tersebut menjadi tantangan berat bagi pemerintah daerah.

Pemerintah terdahulu yang dinakhodai selama 2 periode Heri Amalindo hampir menuntaskan pembangunan infrastruktur jalan yang menjadi prioritas penunjang konektivitas antar wilayah.

Namun, menjadi lebih berat bagi Bupati Asgianto dalam melanjutkan pembangunan daerah ditengah pemangkasan TKD oleh pemerintah pusat.

Setumpuk program dan PR besar yang harus dikerjakan pemerintah daerah membuat pergerakan pembangunan mengalami perlambatan, meski demikian ditahun 2025 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sempat menunjukkan tren peningkatan, meski masih tergolong masih sangat rendah.

Bupati PALI, Asgianto, mengungkapkan bahwa IPM daerah saat ini berada di angka 70,55 poin, naik 0,92 poin atau sekitar 1,32 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 69,63 poin pada pidato resminya saat sidang paripurna dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD).

Bupati Asgianto mengakui, kenaikan tersebut belum cukup signifikan untuk mendorong lompatan kualitas pembangunan manusia di PALI. Ia menegaskan, salah satu faktor utama yang masih menjadi penghambat adalah rendahnya rata-rata lama sekolah masyarakat.

“Masih banyak masyarakat kita yang belum menamatkan pendidikan formalnya. Ini menjadi salah satu penyebab utama lambatnya peningkatan IPM,” ujarnya.

Bupati Asgianto menegaskan bahwa diperlukan pergerakan dan kekompakan seluruh elemen, baik eksekutif, legislatif, dunia industri, maupun masyarakat, agar sejarah panjang lebih 1 Abad energi di tanah PALI benar-benar menjadi fondasi pembangunan yang berdampak bagi masyarakat dan generasi penerus. (J/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!