Muara Enim//Linksumsel-Be Agama, Be Adab, Betungguan: Menjaga Amanah, Janji, Pusaka, dan Marwah.Setiap masyarakat adat memiliki falsafah hidup yang menjadi pedoman dalam mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, keluarga, sesama, lingkungan, dan warisan leluhur. Bagi masyarakat Semende, falsafah itu tidak berhenti pada kata-kata. Ia hidup dalam perilaku, dalam hubungan kekerabatan, dalam cara menghormati orang lain, serta dalam tanggung jawab menjaga amanah yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu inti falsafah kehidupan masyarakat Semende adalah Betungguan.
Betungguan bukan sekadar persoalan rumah, sawah, atau harta warisan. Betungguan adalah amanah. Di dalamnya terdapat tanggung jawab menjaga keluarga, harta pusaka, kesinambungan keturunan, adat, kehormatan, serta janji yang telah dipegang.
Karena itu, Betungguan harus dipahami bersama dengan prinsip Be Agama dan Be Adab serta nilai-nilai kehidupan seperti Beganti, Bepatian, Besindat, Bemalu, Besingkuh, dan Besundi.
Keseluruhannya merupakan rangkaian nilai yang saling menguatkan.
Be Agama: Agama sebagai Landasan Kehidupan
Be Agama berarti menjadikan agama sebagai landasan kehidupan.
Bagi masyarakat Semende, adat tidak semestinya dipisahkan dari nilai agama. Kehidupan harus memiliki pedoman yang mengarahkan manusia kepada kebaikan, kejujuran, tanggung jawab, dan ketakwaan.
Agama menjadi dasar dalam menentukan sikap. Apa yang dilakukan bukan hanya dipertimbangkan apakah menguntungkan atau merugikan, tetapi juga apakah benar atau salah di hadapan Allah SWT.
Dengan demikian, Be Agama bukan hanya identitas, melainkan cara menjalani kehidupan berdasarkan nilai-nilai Islam.
Be Adab: Agama yang Tercermin dalam Perilaku
Jika Be Agama menjadi landasan, maka Be Adab menjadi cermin dalam perilaku.
Be Adab berarti hidup dengan tata krama, tahu menempatkan diri, menghormati orang lain, serta memahami batas-batas kepantasan dalam pergaulan.
Dalam kehidupan masyarakat Semende, adab menyangkut penghormatan kepada orang tua, yang lebih tua, keluarga, tetua adat, laki-laki dan perempuan, serta hubungan kekerabatan yang memiliki kedudukan dan tanggung jawab masing-masing.
Sebab, seseorang tidak cukup hanya mengaku beragama. Agama harus terlihat dalam adabnya.
Betungguan: Memegang Amanah, Pusaka, dan Janji
Di sinilah letak pentingnya Betungguan.
Betungguan merupakan prinsip menjalankan amanah Tunggu Tubang: menjaga dan meneruskan amanah keluarga serta menjaga harta warisan yang menjadi tanggung jawabnya.
Betungguan bukan semata-mata soal memiliki rumah atau sawah. Lebih dari itu, Betungguan adalah tanggung jawab untuk menjaga harta pusaka, keluarga, kesinambungan keturunan, adat, serta janji.
Dalam falsafah ini, harta pusaka bukan sekadar benda yang mempunyai nilai ekonomi. Ia memiliki nilai sejarah, keluarga, dan adat.
Karena itu, janji adalah tungguan Semende. Apa yang telah diucapkan dan disepakati harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Orang yang menerima amanah tidak hanya menerima hak, tetapi juga menerima kewajiban untuk mempertahankannya agar tetap memberikan manfaat bagi keluarga dan generasi berikutnya.
Beganti: Cepat Tanggap dalam Membantu
Nilai berikutnya adalah Beganti.
Beganti menggambarkan sikap cepat tanggap, peka, waspada, dan siap hadir ketika keluarga atau saudara membutuhkan pertolongan.
Dalam kehidupan masyarakat, persoalan seseorang tidak selalu menjadi persoalan dirinya sendiri. Ada ikatan kekeluargaan dan tanggung jawab sosial yang membuat seseorang tidak boleh berpangku tangan ketika saudaranya menghadapi kesulitan.
Beganti mengajarkan kesiapsiagaan untuk membantu dan membela keluarga serta saudara, termasuk dalam mempertahankan kehormatan, harta, dan keselamatan.
Dengan kata lain, Beganti adalah semangat kebersamaan yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Bepatian: Bekerja, Berjanji, dan Menjaga Harga Diri
Bepatian mengandung nilai etos kerja sekaligus tanggung jawab terhadap janji.
Seseorang harus memiliki kemauan untuk bekerja, berusaha, dan menjaga harga dirinya. Tetapi kerja keras tidak berdiri sendiri. Ia harus disertai kejujuran dan kesungguhan dalam memegang apa yang telah dijanjikan.
Janji bukan sesuatu yang boleh diucapkan dengan ringan.
Ketika seseorang telah berjanji, maka ada tanggung jawab moral untuk menepatinya. Karena itu, Bepatian berkaitan erat dengan harga diri pribadi, kehormatan keluarga, serta marwah adat.
Orang yang dapat dipercaya adalah orang yang kata-katanya mempunyai nilai.
Besindat: Tahu Diri dan Tahu Batas
Besindat mengajarkan manusia untuk tahu diri, memahami garis batas, serta mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Nilai ini juga mengajarkan bagaimana seseorang menempatkan dirinya dalam hubungan sosial.
Ada tata penghormatan antara tua dan muda, besar dan kecil, laki-laki dan perempuan, suami dan istri, menantu dan mertua, nenek dan cucu.
Semua memiliki kedudukan, hubungan, dan batas yang harus dihormati.
Besindat dengan demikian bukan sekadar sopan santun. Ia merupakan kesadaran untuk menempatkan diri secara tepat dalam struktur hubungan sosial dan kekeluargaan.
Bemalu: Menjaga Diri dan Kehormatan
Bemalu berarti mempunyai rasa malu.
Namun malu yang dimaksud bukan sekadar takut dilihat atau dinilai orang lain. Bemalu adalah kesadaran batin untuk menjaga diri agar tidak melakukan sesuatu yang merendahkan kehormatan pribadi, keluarga, dan adat.
Rasa malu menjadi pagar moral.
Orang yang memiliki Bemalu akan berpikir sebelum bertindak. Ia mempertimbangkan akibat perbuatannya terhadap dirinya sendiri, keluarganya, dan lingkungan sosialnya.
Karena itu, hilangnya rasa malu dapat menjadi awal runtuhnya batas-batas kepantasan dalam kehidupan masyarakat.
Besingkuh: Menjaga Aturan dalam Pergaulan
Selanjutnya adalah Besingkuh.
Besingkuh berkaitan dengan aturan dalam pergaulan, baik dalam tindak laku maupun perbuatan, dengan tetap menjunjung tinggi sikap saling menghormati.
Manusia tidak hidup seorang diri. Ada keluarga, tetangga, kerabat, masyarakat, dan lingkungan sosial yang harus dijaga hubungannya.
Karena itu, kebebasan seseorang tidak boleh berubah menjadi tindakan yang mengganggu kehormatan atau hak orang lain.
Besingkuh mengajarkan bahwa pergaulan harus memiliki batas, kesopanan harus dijaga, dan hubungan antarmanusia harus dibangun atas dasar saling menghormati.
Besundi: Menjaga Marwah dan Menjadi Teladan
Nilai berikutnya adalah Besundi.
Besundi berhubungan dengan upaya menjaga marwah, memberikan teladan, serta menjalankan semangat amar makruf nahi mungkar—mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Menjaga marwah bukan berarti merasa lebih tinggi daripada orang lain. Justru sebaliknya, marwah harus diwujudkan melalui perilaku yang baik sehingga seseorang dapat menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya.
Orang yang dituakan, orang yang memegang amanah, maupun mereka yang mempunyai kedudukan dalam keluarga dan masyarakat, memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan teladan.
Sebab, marwah tidak dibangun dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan.
Betungguan Bukan Sekadar Warisan, Melainkan Amanah
Pada akhirnya, seluruh nilai tersebut bermuara pada satu kesadaran: Betungguan adalah amanah.
Rumah, sawah, harta pusaka, dan warisan keluarga memang mempunyai nilai material. Tetapi dalam pandangan adat, nilai tersebut tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral dan sosial yang menyertainya.
Tunggu Tubang bukan sekadar siapa yang tinggal di rumah atau siapa yang menguasai harta. Di baliknya terdapat tanggung jawab untuk menjaga agar pusaka keluarga tidak kehilangan makna dan tidak terputus dari akar sejarahnya.
Betungguan juga berarti menjaga kesinambungan keluarga dan adat agar tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, harta boleh diwariskan, tetapi amanah harus diteruskan. Rumah boleh berdiri, tetapi nilai di dalamnya harus tetap hidup. Janji boleh diucapkan sekali, tetapi kehormatannya harus dijaga sepanjang kehidupan.
Dari Leluhur untuk Generasi Mendatang
Falsafah Be Agama, Be Adab, Betungguan, Beganti, Bepatian, Besindat, Bemalu, Besingkuh, dan Besundi sesungguhnya bukan sekadar kumpulan istilah adat.
Ia merupakan rangkaian nilai yang mengajarkan bagaimana manusia Semende seharusnya menjalani kehidupan.
Be Agama memberi landasan.
Be Adab mengatur perilaku.
Betungguan mengajarkan amanah.
Beganti menanamkan kepedulian dan kesiapsiagaan.
Bepatian membangun etos kerja dan keteguhan memegang janji.
Besindat mengajarkan tahu diri dan tahu batas.
Bemalu menjaga kehormatan.
Besingkuh mengatur tata pergaulan.
Dan Besundi menjaga marwah sekaligus menuntun manusia untuk menjadi teladan dalam kebaikan.
Jika nilai-nilai itu benar-benar dipahami dan diamalkan, maka adat tidak akan berhenti sebagai cerita masa lalu.
Adat akan tetap menjadi kompas kehidupan.
Sebab masyarakat adat yang kuat bukan hanya masyarakat yang mampu mempertahankan warisan leluhur, tetapi masyarakat yang mampu menghidupkan nilai leluhur dalam kehidupan generasinya.
Dan bagi masyarakat Semende, Betungguan pada akhirnya bukan hanya soal menunggu dan menjaga rumah pusaka.
Betungguan adalah menjaga amanah, menjaga keluarga, menjaga adat, menjaga janji, dan menjaga marwah—agar semuanya tetap sampai kepada anak cucu.(j.red).
Oleh: Marshal (Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat)
Link Sumsel Sumber Informasi Independen