Muara Enim//Linksumsel-Politik tidak selalu dimenangkan dengan suara keras. Kadang, kemenangan justru lahir dari kesabaran, ketenangan, penguasaan medan, kemampuan membaca arah angin, lalu mengambil keputusan pada saat yang paling tepat.
Dalam strategi, ada satu prinsip sederhana: jangan terburu-buru menyerang sebelum medan benar-benar dikuasai.
Saya melihat pola semacam itu sedang dimainkan dalam percaturan politik Indonesia hari ini.
Bukan perang dalam arti militer.
Tetapi sebuah strategi politik yang menggunakan logika medan: mengenali kekuatan, membaca peta, menghitung risiko, membangun jaringan, merangkul sebanyak mungkin pihak, dan memastikan setiap langkah memiliki konsekuensi yang terukur.
DARI DAERAH PERSIAPAN MENUJU SASARAN
Dalam terminologi strategi operasi, sebelum mencapai sasaran terdapat apa yang disebut Daerah Persiapan (DP).
Di sanalah kekuatan dihimpun.
Medan dipelajari.
Kekuatan sasaran dihitung.
Jalur gerak dipetakan.
Risiko diperhitungkan.
Dan yang paling penting: tidak semua rencana harus diperlihatkan kepada lawan.
Jika analogi ini digunakan untuk membaca politik Indonesia hari ini, saya melihat langkah Srategi tidak sedang terburu-buru menuju titik akhir.
Ia seperti masih berada di Daerah Persiapan.
Namun dari daerah persiapan itu, sasaran mulai terlihat.
Salah satu titik yang menarik untuk diamati adalah persoalan persyaratan pendidikan Gibran Rakabuming Raka.
Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan berupa ijazah, sertifikat, atau diploma dari luar negeri yang dapat menjadi dasar penyetaraan pendidikan minimal SMA atau sederajat.
Mahkamah juga mempertimbangkan bahwa Certificate of Attendance bukan merupakan bukti kelulusan atau tanda tamat belajar.
Namun pada saat yang sama, MK tidak mendiskualifikasi Gibran.
Permohonan yang diajukan dinyatakan tidak dapat diterima karena persoalan kedudukan hukum para pemohon.
Artinya, babak hukum di MK memang telah berakhir, tetapi pertanyaan substansial yang muncul dari perkara tersebut belum otomatis menghilang.
Dan di sinilah politik menjadi menarik.
STRATEGI TIDAK HARUS MENYERANG UNTUK MENANG
Banyak orang memahami kemenangan sebagai kemampuan menghancurkan lawan.
Menurut saya, pemahaman seperti itu sudah terlalu lama.
Dalam politik modern, kemenangan tertinggi justru bukan ketika lawan hancur.
Kemenangan tertinggi adalah ketika seseorang mampu membuat semakin sedikit orang yang bersedia menjadi musuhnya.
Caranya sederhana, tetapi tidak mudah:
Bangun kawan sebanyak mungkin.
Dekati mereka yang berbeda.
Rangkul mereka yang dahulu kritis.
Berikan ruang kepada orang-orang yang memiliki kapasitas berpikir berbeda.
Karena semakin banyak kawan, semakin kecil ruang konflik.
Ada ungkapan yang menarik:
“Seribu kawan masih kurang, satu musuh sudah terlalu banyak.”
Saya melihat prinsip ini sangat relevan dalam membaca STRATEGI politik
ROCKY, SYAHGANDA, DAN SENI POLITIK MERANGKUL
Masuknya figur-figur dengan karakter pemikiran berbeda ke dalam ruang komunikasi kekuasaan tidak semata-mata soal siapa memperoleh posisi dan siapa mendapatkan tempat.
Ini juga dapat dibaca sebagai bagian dari strategi memperluas spektrum dukungan dan memperkecil jarak dengan kelompok-kelompok yang sebelumnya berada di luar lingkaran kekuasaan.
Rocky Gerung, Syahganda Nainggolan dan sejumlah tokoh lainnya memiliki karakter, jaringan, serta pengaruh pemikiran masing-masing.
Ketika orang-orang yang sebelumnya berada di ruang kritik dapat diajak berdialog, bekerja sama, atau dirangkul, maka yang terjadi bukan sekadar bertambahnya jumlah pendukung.
Yang berubah adalah peta politiknya.
Dulu berada di luar.
Kini sebagian masuk ke dalam ruang percakapan.
Dulu berhadapan.
Kini bisa duduk dalam satu meja.
Inilah seni politik yang sering tidak terlihat dari permukaan.
“CARI, DEKATI, RANGKUL”
Kalau strategi tersebut saya sederhanakan, ada tiga kata:
Cari. Dekati. Rangkul.
Cari orang-orang yang mempunyai kapasitas.
Dekati mereka yang mempunyai pengaruh.
Rangkul mereka yang memiliki pandangan berbeda.
Bukan untuk menghilangkan perbedaan.
Tetapi untuk memastikan bahwa perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan permanen.
Dalam politik, orang yang hari ini menjadi lawan belum tentu akan menjadi lawan selamanya.
Begitu pula orang yang hari ini berada di dalam pemerintahan belum tentu akan selamanya berada di sana.
Sebab politik adalah ruang yang terus bergerak.
Yang tetap bukan siapa kawan dan siapa lawan.
Yang tetap adalah kepentingan bangsa dan negara.
LALU, DI MANA POSISI KASUS GIBRAN?
Di sinilah kita harus hati-hati membaca putusan MK.
Putusan tersebut tidak boleh diterjemahkan secara serampangan sebagai putusan bahwa “Gibran tidak memiliki ijazah SMA.”
MK tidak membuat amar seperti itu.
Yang dinyatakan dalam pertimbangan adalah bahwa Mahkamah tidak menemukan bukti meyakinkan berupa ijazah, sertifikat, atau diploma luar negeri yang menjadi dasar penyetaraan pendidikan minimal SMA atau sederajat.
Namun MK juga tidak mendiskualifikasi Gibran.
Karena itu, antara fakta persidangan, pertimbangan hukum, dan amar putusan harus dibedakan.
Jangan sampai opini politik berubah menjadi vonis hukum.
Tetapi sebaliknya, jangan pula fakta yang tercatat dalam putusan diabaikan begitu saja.
Pertanyaan mengenai dokumen dan pemenuhan persyaratan tersebut tetap menjadi bagian dari ruang hukum dan kewenangan lembaga yang berwenang.
Di sinilah bola panas itu mulai bergerak.
PENGUASAAN MEDAN: SENJATA YANG TIDAK SELALU TERLIHAT
Dalam strategi, penguasaan medan tidak selalu ditandai dengan suara keras atau gerakan besar.
Justru sering kali medan dikuasai melalui:
pantauan, pemetaan, konsolidasi, kesabaran, dan tindakan yang terukur.
Ketika posisi sudah kuat, keputusan dapat diambil tanpa harus memperlihatkan seluruh rencana sebelumnya.
Dalam politik pun demikian.
Seorang pemimpin tidak harus selalu memperlihatkan seluruh kartu yang dimilikinya.
Kadang lebih baik membiarkan semua pihak membaca situasi dari perspektif masing-masing.
Sementara pemain utama terus menyusun langkah berikutnya.
Itulah sebabnya politik tidak selalu bisa dibaca hanya dari apa yang terlihat di depan kamera.
Ada keputusan yang diumumkan.
Ada keputusan yang dinegosiasikan.
Dan ada pula keputusan yang baru terlihat hasilnya ketika waktunya tiba.
TARGET POLITIK TIDAK SELALU HARUS DIHANCURKAN
Di sinilah saya melihat perbedaan antara politik lama dengan politik yang lebih strategis.
Politik lama bertanya:
“Bagaimana menghancurkan lawan?”
Politik strategis bertanya:
“Bagaimana membuat lawan tidak lagi menjadi musuh?”
Kalau bisa dirangkul, rangkul.
Kalau bisa diajak bekerja sama, ajak bekerja sama.
Kalau konflik bisa dikurangi, kurangi.
Sebab perang politik yang terlalu panjang hanya menghabiskan energi bangsa.
Tetapi ketika seseorang mampu mengubah lawan menjadi kawan, ia telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pertarungan politik.
Ia memenangkan ruang stabilitas.
STRATEGI DAN PERMAINAN CANTIK
Karena itu, saya melihat apa yang terjadi sekarang sebagai sebuah permainan politik yang belum sampai pada garis akhir.
Strategi boleh saja selama ini terlihat seperti berada dalam situasi yang dapat diarahkan oleh berbagai kekuatan.
Tetapi politik tidak selalu seperti yang terlihat di depan kamera.
Bisa jadi seseorang membiarkan dirinya dianggap sedang mengikuti arus, sementara sebenarnya ia sedang membaca arus tersebut.
Dan ketika waktunya tiba, arah permainan dapat berubah.
Bukan karena emosi.
Bukan karena dendam.
Tetapi karena perhitungan.
Dalam strategi, kejutan terbaik bukanlah tindakan yang dilakukan secara gegabah.
Kejutan terbaik adalah tindakan yang dilakukan ketika seluruh kondisi telah siap, sementara pihak lain belum menyadarinya.
MENANG TANPA KORBAN, MENANG TANPA MUSUH
Saya mempunyai satu pandangan sederhana mengenai kemenangan politik.
Misi terbaik adalah misi yang mencapai tujuan tanpa menimbulkan korban yang tidak perlu.
Lebih tinggi lagi:
tidak ada musuh yang harus dihancurkan karena sebagian besar telah berhasil menjadi kawan.
Inilah politik yang matang.
Bukan politik balas dendam.
Bukan politik penghancuran.
Bukan politik yang hidup dari kebencian.
Tetapi politik yang mampu mengubah konflik menjadi kerja sama.
Sebab negara tidak membutuhkan politik yang terus-menerus mencari musuh.
Negara membutuhkan pemimpin yang mampu mengurangi jumlah musuh dan memperbanyak jumlah kawan.
BABAK BERIKUTNYA AKAN MENENTUKAN
Kini publik sedang melihat bagaimana persoalan dokumen pendidikan Gibran berkembang setelah putusan MK.
Putusan itu jelas:
permohonan para pemohon tidak dapat diterima karena persoalan kedudukan hukum.
Namun fakta yang juga tercatat dalam pertimbangan MK adalah bahwa Mahkamah tidak menemukan bukti meyakinkan berupa ijazah, sertifikat, atau diploma luar negeri yang menjadi dasar penyetaraan pendidikan tersebut.
Di sinilah bola politik dan hukum memasuki babak berikutnya.
Bukan lagi semata-mata pertarungan di ruang sidang MK.
Melainkan bagaimana lembaga-lembaga negara yang memiliki kewenangan akan menyikapi persoalan tersebut.
Sebagai pengamat strategi politik dan kebijakan publik, saya melihat satu hal:
Prabowo tidak perlu terburu-buru.
Jika peta sudah terbaca, langkah berikutnya tinggal menunggu waktu dan momentum.
Sebab dalam permainan strategi, orang yang paling berbahaya bukan selalu orang yang paling banyak berbicara.
Kadang justru orang yang paling lama diam, paling banyak mengamati, dan paling sabar membaca seluruh medan.
Dan mungkin, justru di situlah letak seni politik.
Bukan menghancurkan musuh.
Tetapi membuat semakin sedikit orang yang mau menjadi musuh.
Pada akhirnya, kemenangan terbesar bukan ketika lawan kalah.
Kemenangan terbesar adalah ketika tidak ada lagi musuh yang perlu dikalahkan. (j.red).
Oleh: Marshal (Pengamat Strategi Politik dan Kebijakan Publik)
Link Sumsel Sumber Informasi Independen