Kembali Kepada Fitrah di Tengah Kerusakan Zaman

Muara Enim//Linksumsel-Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Pesantren Darussa’dah, RT 02 RW 01, Kelurahan Air Lintang, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim Sabtu (21/3/2026), mengajak umat Islam untuk kembali kepada fitrah di tengah tantangan moral yang kian kompleks di era modern.

Khutbah yang disampaikan oleh Marshal tersebut menekankan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan berakhirnya ibadah puasa Ramadhan.

Lebih dari itu, Idul Fitri merupakan momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu.

“Kemenangan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi ketika kita mampu menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih jujur, dan lebih peduli kepada sesama,” ujar khatib dalam khutbahnya.

Mengutip firman Allah dalam Surah An-Nazi’at ayat 40–41,
khatib menjelaskan bahwa orang yang mampu menahan hawa nafsu dan memiliki rasa takut kepada Allah akan mendapatkan balasan surga.

Karena itu, jamaah diajak untuk melakukan introspeksi diri, apakah Ramadhan benar-benar membawa perubahan atau hanya berlalu tanpa makna.

“Jika Ramadhan telah pergi, tetapi hawa nafsu masih berkuasa, maka patut dipertanyakan apakah kita termasuk orang yang benar-benar meraih kemenangan,” katanya.

Dalam khutbahnya, Marshal juga menyoroti kondisi zaman yang ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi, namun tidak selalu diiringi dengan kemajuan akhlak.

Ia menyinggung berbagai persoalan sosial seperti menurunnya kejujuran, praktik korupsi, serta ketimpangan dalam penegakan keadilan.

Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa kehancuran suatu bangsa bukan semata karena kemiskinan, melainkan akibat hilangnya moral dan keadilan.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tentang kehancuran umat terdahulu akibat ketidakadilan dalam penegakan hukum.

“Ketika yang kuat dilindungi dan yang lemah ditekan, maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu,” ujarnya.

Baca juga:  Untuk Memberikan Rasa Aman Kepada Masyarakat Polres PALI Gelar Patroli Perintis Presisi

Lebih lanjut, khatib menegaskan bahwa kekuatan suatu bangsa terletak pada akhlak masyarakatnya.

Jika nilai kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial dijaga, maka keberkahan akan hadir. Sebaliknya, jika kebohongan dan keserakahan menjadi kebiasaan, maka kemakmuran yang ada hanya bersifat semu dan rapuh.

Ia juga mengingatkan bahaya penyebaran informasi tanpa verifikasi yang dapat memicu fitnah di tengah masyarakat.

Hal tersebut, menurutnya, sejalan dengan peringatan Nabi bahwa seseorang dapat dianggap berdusta ketika menyampaikan semua yang didengarnya tanpa tabayyun.

Mengutip Surah Ar-Rum ayat 41, khatib menyampaikan bahwa kerusakan di muka bumi merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri.

Oleh karena itu, perubahan harus dimulai dari diri masing-masing, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11.

Di akhir khutbah, jamaah diajak menjadikan Idul Fitri sebagai titik awal untuk memperbaiki diri, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan sosial.

“Perubahan besar selalu dimulai dari hati yang ikhlas,” tuturnya.

Khutbah berlangsung khidmat dan diikuti dengan penuh perhatian oleh jamaah yang memadati Masjid Darussa’dah.

Diharapkan, nilai-nilai yang diperoleh selama Ramadhan dapat terus terjaga dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.(j.red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!