Muara Enim//Linksumsel-Sumatera Selatan bukan hanya dikenal sebagai tanah Melayu Palembang, tetapi juga rumah bagi beragam komunitas adat dengan sejarah dan tradisi yang khas. Salah satunya adalah Suku Belida, sebuah suku yang tumbuh dan berkembang di kawasan perairan Sungai Musi dan anak-anak sungainya.
Menurut penuturan masyarakat setempat, penamaan Belida berasal dari ikan belida, spesies ikan air tawar yang dahulu banyak ditemukan di wilayah sungai tempat leluhur mereka bermukim. Kehidupan yang lekat dengan air membentuk identitas sosial dan budaya suku ini, menjadikan sungai bukan sekadar ruang hidup, tetapi juga sumber nilai dan kearifan.
Sebaran Wilayah dan Identitas Sosial di Kabupaten Muara Enim, Suku Belida tersebar di beberapa kecamatan, antara lain Gelumbang, Lembak, Sungai Rotan, dan Belida. Selain itu, komunitas Belida juga dapat ditemukan di Kecamatan Cambai dan wilayah sekitarnya. Meski hidup berdampingan dengan suku-suku lain, Suku Belida tetap mempertahankan ciri khas adat dan tradisi mereka.
Secara etnis dan kebahasaan, Suku Belida tergolong dalam rumpun bangsa Melayu. Bahasa Belida memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu Pesisir, namun dengan logat dan intonasi khas yang membedakannya dari bahasa daerah lain di sekitarnya. Sayangnya, penggunaan bahasa Belida asli kini semakin jarang dan mengalami pergeseran, terutama akibat kuatnya pengaruh Bahasa Melayu Palembang dalam kehidupan sehari-hari.
Adat, Islam, dan Tradisi Sedekah
Budaya Suku Belida sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam dan tradisi Melayu, yang tercermin kuat dalam berbagai ritual adat. Salah satu tradisi yang masih lestari adalah sedekah adat, yang menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, dan solidaritas sosial.
Tradisi sedekah apem misalnya, dilaksanakan dengan melibatkan seluruh keluarga di desa. Setiap keluarga membuat apem kuah, yang kemudian dikumpulkan di balai desa. Acara dilanjutkan dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT, sebelum akhirnya apem kuah dibagikan dan disantap bersama seluruh warga.
Selain itu, terdapat pula sedekah ketupat. Dalam tradisi ini, setiap keluarga membuat ketupat dari daun rumbai atau daun pandan dengan berbagai bentuk unik. Ketupat-ketupat tersebut dikumpulkan di balai desa, didoakan bersama, lalu dimakan secara gotong royong. Menariknya, setelah acara selesai, kulit ketupat digantungkan di pintu rumah warga, yang dipercaya sebagai simbol berkah, perlindungan, dan pengingat kebersamaan.
Sedekah Lemang Menyambut Ramadhan
Menjelang satu bulan sebelum datangnya Bulan Suci Ramadhan, masyarakat Suku Belida menggelar sedekah lemang. Lemang dibuat dari beras ketan yang dibungkus daun pisang, dimasukkan ke dalam bambu, lalu dibakar selama tiga hingga empat jam.
Tradisi ini dilakukan secara sukarela, tanpa paksaan. Warga saling berkunjung, bersilaturahmi, dan menikmati lemang bersama. Lebih dari sekadar makanan, sedekah lemang menjadi sarana mempererat hubungan sosial sekaligus persiapan spiritual dalam menyambut bulan penuh berkah.
Warisan Budaya yang Perlu Dijaga di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial, Suku Belida menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjaga bahasa dan tradisi leluhur. Namun, berbagai ritual adat yang masih dijalankan hingga kini menjadi bukti bahwa identitas budaya mereka belum sepenuhnya tergerus zaman.
Suku Belida adalah potret peradaban sungai yang menyatu dengan alam, agama, dan nilai gotong royong. Keberadaannya memperkaya khazanah budaya Sumatera Selatan sekaligus menjadi pengingat bahwa keberagaman lokal adalah fondasi penting dalam membangun identitas bangsa.
Oleh : Marshal ( Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat )(J.red).
Link Sumsel Sumber Informasi Independen