PALI//Linksumsel-Program Menu Makan Bergizi (MBG) yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) kembali menjadi sorotan publik.
Sejumlah paket makanan yang dibagikan tidak hanya dipertanyakan dari nilai rupiah, sisi nilai gizi dan kecukupan kalori, tetapi juga dinilai lebih menyerupai jajanan anak kantin kaki lima ketimbang menu makan bergizi seimbang.
Sorotan tersebut mencuat seiring beredarnya dokumentasi paket makanan dari SPPG Betung Barat Kecamatan Abab PALI dan SPPG Talang Ubi Utara PALI.
Publik menilai, program ini membawa label “makan bergizi”, namun prakteknya di lapangan jauh dari harapan seperti yang gaungkang Presiden Prabowo.
Komposisi dan tampilan menu belum sepenuhnya mencerminkan standar asupan nutrisi yang memadai bagi anak usia sekolah.
Pada paket dari SPPG Betung Barat, tanggal 23 februari 2026 menu berisi 1 roti kecil, 2 butir telur, susu kotak, 1 buah apel dan jeruk, 2 potong kue camilan manis untuk jatah 3 hari.
Lebih mencengangkan lagi, paket dari SPPG Talang Ubi Utara terdiri atas 1 butir telur, 1 bungkus kecil kacang, 3 biji buah kurma, dan 1 roti kecil yang disajikan tampak seperti jajanan gerobak kaki lima.
Bagi sebagian orang tua dan pemerhati kebijakan anggaran, susunan menu tersebut dinilai tidak jauh berbeda dengan jajanan yang biasa dibeli anak-anak di kantin sekolah atau pedagang kaki lima praktis, murah, dan lebih bersifat camilan.
Kritik tidak hanya menyasar jenis makanan dan anggaran, tetapi juga porsi, keseimbangan zat gizi, serta perhitungan kalori.
Menu dinilai minim karbohidrat kompleks, sayur matang, dan lauk utama yang lazim menjadi komponen makan siang bergizi. Sebaliknya, beberapa item justru dianggap sebagai makanan selingan yang kontribusi gizinya terbatas.
“Kalau dilihat dari isinya, ini lebih cocok disebut bekal jajan, bukan menu makan bergizi,” ungkap salah seorang orang tua siswa.
Pendapat serupa ramai disuarakan di media sosial, dengan perbandingan bahwa menu MBG tidak jauh berbeda dari jajanan kantin yang bisa dibeli dengan harga terjangkau.
Salah satu akun @Diana mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena MBG di tengah masyarakat.
“Itulah mirisnya, anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah Rp 15.000, sampai ke anak anak tidak sampai Rp 10.000”, tulisnya dikomentar.
Di tengah tujuan program MBG untuk meningkatkan status gizi anak dan mendukung kualitas kesehatan jangka panjang, kritik ini menjadi catatan penting.
Tanpa standar menu yang jelas, transparansi nilai gizi dan kalori, serta pengawasan kualitas, program berisiko kehilangan substansi. Alih-alih menjadi instrumen perbaikan gizi, MBG dikhawatirkan hanya bergeser menjadi ladang korupsi. (J/red)
Link Sumsel Sumber Informasi Independen