PALI//Linksumsel – Kabar menggembirakan datang dari Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Minggu 19 April 2026, harga karet di tingkat petani melonjak signifikan hingga menembus kisaran Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram.
Kenaikan harga ini langsung terasa di lapangan. Di Desa Karang Agung, aktivitas jual beli karet tampak semakin hidup. Sejumlah toke, seperti H. Fikri dan Sidarmanto (Awok), terlihat sibuk bernegosiasi dengan para petani yang antusias menjual hasil sadap mereka.
Lonjakan harga karet ini diduga dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik global yang berdampak pada pasokan karet dunia, sekaligus meningkatnya permintaan, terutama dari sektor industri otomotif yang kembali bergairah.
Para petani pun menyambut baik kondisi ini. Setelah sempat berada di titik harga yang kurang menguntungkan, kini mereka kembali merasakan angin segar.
“Alhamdulillah, harga karet sekarang jauh lebih baik. Pendapatan kami juga ikut meningkat,” ungkap salah satu petani karet di Desa Karang Agung.
Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya hilang. Faktor cuaca yang tidak menentu masih menjadi kendala utama dalam proses produksi. Intensitas hujan yang tinggi hingga panas ekstrem kerap mengganggu aktivitas penyadapan dan memicu gugur daun pada pohon karet.
“Kadang baru beberapa jam menyadap sudah turun hujan. Kadang juga panas berlebihan, pohon karet jadi sering gugur daun. Hasil panen pun tidak stabil,” tambahnya.
Kondisi ini membuat para petani berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah, baik pusat maupun daerah. Dukungan dalam bentuk bantuan pupuk, program peremajaan tanaman, serta penyediaan sarana produksi dinilai sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan sektor perkebunan karet.
Dengan dukungan yang tepat, para petani optimistis komoditas karet di Kabupaten PALI akan terus berkembang dan mampu menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat. (J/red)
Link Sumsel Sumber Informasi Independen