Adat Semende: Marwah Tunggu Tubang Dijaga dari Leluhur hingga Anak Cucu

Muara Enim//Linksumsel-Adat Semende bukan sekadar tradisi. Ia adalah sistem kehidupan yang diwariskan para leluhur dari generasi ke generasi dan hingga kini tetap menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Semende.

Karena itu, adat Semende tidak dapat dibagi-bagi, dipindahkan, apalagi diberikan kepada seseorang hanya melalui seremoni atau keputusan manusia.

Di dalam struktur adat Semende terdapat Tunggu Tubang, Anak Belai, Apit Jurai, Meraje, Jenang Meraje, Payung Meraje, dan Lebu Meraje/Jurai. Masing-masing memiliki kedudukan berdasarkan hubungan keluarga dan garis keturunan.

Di sinilah prinsip dasarnya harus dipahami: Meraje ( Kakak atau adik laki laki dari ibu Tunggu Tubang ) istilah Populernya Paman, Meraje bukan gelar penghormatan yang dapat diangkat atau diberikan kepada orang lain. Kedudukannya lahir dari struktur kekerabatan dan garis keturunan keluarga.

Meraje ada tingkatannya ke atas
Yaitu: Jenang Meraje, Payung Meraje, dan Lebu Meraje. Semuanya memiliki fungsi masing masing berdasarkan tingkatannya, fungsi dalam sistem adat. Ia bukan jabatan yang dapat diberikan kepada seseorang karena kedudukan, jasa, popularitas, kekuasaan, ataupun kepentingan tertentu.

Adat Semende yang sangat unik, memiliki mekanismenya sendiri.

Adat Semende Berakar pada Adab

Kekuatan adat Semende bukan hanya terletak pada struktur kekerabatannya, tetapi juga pada adab yang menyertainya.

Masyarakat Semende mengenal nilai bemalu, besingkuh, besundi, besindat, dan bejurai sebagai bagian dari tata kehidupan sosial.

Nilai-nilai itu mengajarkan kehormatan, kesopanan, rasa malu, tanggung jawab, dan kuatnya hubungan kekeluargaan.

Karena itu, menjaga adat tidak cukup hanya dengan mempertahankan nama dan gelarnya. Yang jauh lebih penting adalah menjaga nilai dan adab yang menjadi jiwa adat tersebut.

Semende Tersebar, Adat Tetap Menjadi Pengikat

Masyarakat Semende kini tersebar di berbagai wilayah Nusantara, bahkan sampai ke luar negeri. Di Mekkah pun terdapat himpunan keluarga Semende.

Baca juga:  Studi Tour DPMD PALI & Para Kades Ke Sumedang Jabar Dinilai Pemborosan Anggaran

Jarak tidak menghapus identitas.

Di mana pun masyarakat Semende berada, hubungan keluarga dan nilai adat tetap menjadi pengikat. Karena itu, menjaga marwah adat bukan hanya tanggung jawab masyarakat yang tinggal di tanah asal Semende, tetapi juga seluruh keluarga dan jurai Semende di mana pun berada.

Tunggu Tubang adalah Amanah

Salah satu kekuatan adat Semende terletak pada sistem Tunggu Tubang, yang menempatkan anak perempuan Tunggu Tubang sebagai penerima amanah untuk menjaga harta pusaka keluarga, terutama rumah dan sawah.

Tunggu Tubang bukan sekadar penerima warisan.

Ia adalah penjaga keberlangsungan harta pusaka dan tempat berkumpulnya keluarga besar.

Karena itu, dalam kehidupan masyarakat Semende, rezeki yang diperoleh dari bertani—baik padi, sayuran maupun kopi—tidak semata-mata dipandang sebagai kekayaan pribadi.

Ada tanggung jawab yang lebih besar: menjaga keluarga, mendidik anak, mempertahankan pusaka, dan mempersiapkan masa depan generasi berikutnya.

Perkawinan Memperkuat Jurai

Dalam tradisi masyarakat Semende, perkawinan juga memiliki hubungan erat dengan keluarga besar Tunggu Tubang.

Ketika seorang laki-laki mempersunting perempuan Tunggu Tubang, ia tidak hanya memasuki hubungan dengan seorang perempuan, tetapi juga memasuki lingkungan keluarga besar yang memiliki tata hubungan adat.

Salah satu tradisi yang dikenal adalah perbie berupa seekor kerbau jantan untuk perkawinan anak perempuan Tunggu Tubang. Kerbau tersebut kemudian menjadi bagian dari jamuan bagi Apit Jurai, keluarga besar Tunggu Tubang, baik yang dekat maupun yang berada jauh.

Tradisi ini mengandung pesan sederhana tetapi dalam: kebahagiaan sebuah keluarga harus dirasakan bersama oleh keluarga besar.

Di situlah gotong royong, persaudaraan, dan kekuatan jurai dipelihara.

Kekayaan untuk Generasi

Leluhur Semende juga mewariskan pandangan bahwa rezeki harus digunakan untuk membangun masa depan.

Baca juga:  Polsek Talang Ubi Datangi TKP Seorang Gadis Gantung Diri di Desa Talang Bulang

Hasil pertanian tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk menyekolahkan anak, terutama dalam pendidikan agama, serta memenuhi cita-cita menunaikan ibadah haji apabila kemampuan telah mencukupi.

Filosofi ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan bukan semata-mata seberapa banyak harta dikumpulkan, tetapi seberapa jauh harta tersebut mampu membawa manfaat bagi keluarga dan generasi berikutnya.

Jangan Jadikan Adat sebagai Seremoni

Di tengah perubahan zaman, adat Semende harus tetap dihormati sebagai sistem kehidupan, bukan sekadar simbol budaya.

Siapa pun yang ingin menghormati masyarakat Semende seharusnya terlebih dahulu memahami dan menghormati mekanisme adatnya.

Sebab Meraje bukan gelar yang bisa diberikan. Tunggu Tubang bukan simbol yang bisa dipindahkan. Dan adat bukan panggung yang dapat digunakan untuk kepentingan sesaat.

Adat lahir dari sejarah, keluarga, garis keturunan, dan kesepakatan sosial yang diwariskan leluhur.

Maka tugas generasi sekarang bukan mengubah adat agar sesuai dengan kepentingan zaman, melainkan memahami mana yang dapat berkembang dan mana yang harus tetap dijaga sebagai jati diri.

Pada akhirnya, menjaga adat Semende bukan berarti menolak perubahan.

Justru sebaliknya, masyarakat boleh maju mengikuti zaman, tetapi jangan sampai kemajuan membuat kita lupa kepada akar.

Sebab ketika akar adat putus, yang hilang bukan hanya sebuah tradisi.

Yang hilang adalah identitas.(J.red).

Oleh: Marshal (Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!