Lahat//Linksumsel-Beberapa sopir mobil angkutan batu bara maupun pemilik kendaraan yang selama ini menggunakan jalan servo dalam mengangkut batu bara tersebut, kini mulia berani mengungkap adanya dugaan mafia minyak solar yang diduga kuat memainkan harga yang dianggap menyalahi aturan.
Seperti diakui salah satu sopir batu bara berinisial GG (35),kawasan KM 48 jalan servo Lahat itu mengungkapkan, bahwa harga minyak solar pergalon yang harusnya berisi 35 liter, namun, ketika di liter kan kembali justru menjadi 31 liter. Sementara harga pergalonnya menjadi Rp390 ribu, yang semestinya harga solar normalnya Rp 300 ribu dengan isi pergalonnya 35 liter.
“Gawat bang, harga solar ditingkat eceran kawasan Nanjungan Merapi Timur Lahat harganya melangit. Padahal harganya tidak segitu,” ujar sopir GG kawasan jalan servo tersebut.
Ia mengatakan, bahwa dugaan mainkan harga minyak solar kepada mobil-mobil pengangkut batubara,dan khususnya saya sendiri tentunya sangat memberatkan, begitupun owner pemilik kendaraan merasa keberatan,dan ini patut menjadi atensi dari pihak yang berwenang,” keluh GG.
Sementara seorang aktivis Sumatera Selatan M.Franky yang menyoroti adanya dugaan mafia minyak solar bersubsidi dalam mempermainkan harga dengan cara dugaan membeli BBM murah di SPBU lalu diduga menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi kepada industri atau angkutan tambang tersebut, perlu mendapatkan tindakan tegas dari pihak yang berwenang.
“Kita ketahui, bahwa harga resmi minyak solar yang murah, sekitar Rp6.800 per liter atau kurang, namun jika dilambungkan harganya selangit, diduga ada permainan harga ,” ujar Franky .(08/09).
Dirinya menambahkan, bahwa dugaan modus operandi mafia solar bisa saja terjadi, apalagi saat ini kita ketahui sulitnya mendapatkan minyak solar yang butuh antri di SPBU berjam-jam lamanya yang kadang tidak dapat.
“Dugaan kuat manipulasi terkait minyak solar sudah lama terdengar. Bahkan dugaan main harga pun sudah kerap terdengar yang diduga dimainkan dari tingkat kelas atas sampai tingkat kelas teri,” tambah Aktivis M Franky pada media ini (08/09).
Dirinya menyimpulkan, dugaan terjadi pelaku mafia-mafia solar dengan menjual harga tinggi tersebut, setidaknya perlu adanya penindakan tegas, seperti contoh yang terjadi yang dialami salah satu sopir mobil batu bara lintasi jalan servo tersebut.
“Dugaan solar ditimbun lalu dijual kembali ke sektor industri, perkebunan, atau tambang dengan harga non subsidi yang jauh lebih mahal tersebut, sudah tidak aneh lagi bung. Dugaan praktik-praktik licik ini menyebabkan kelangkaan bagi masyarakat kecil, dan merugikan keuangan negara hingga ratusan miliar rupiah,” ungkapnya.
Berharap atas adanya peristiwa yang dikeluhkan para Abang-abang sopir pengangkut batu bara tersebut, juga perlu jadi catatan serta penegasan dari pihak yang dianggap berwenang,” pungkas Aktivis Sumsel M. Franky. (j.red).
Link Sumsel Sumber Informasi Independen