ATM Rusak Tak Kunjung Beres, Layanan Mandiri Pendopo Disorot Tajam

PALI || Linkaumsel-Predikat Bank Mandiri sebagai bank pelat merah papan atas dengan aset triliunan rupiah dan reputasi internasional ternyata berbanding terbalik dengan realitas menyedihkan di tingkat akar rumput. Di Kota Pendopo, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, ribuan nasabah kini menjadi korban dari dugaan pembiaran sistemik dan bobroknya manajerial Kantor Cabang Bank Mandiri Pendopo.

Alih-alih menghadirkan fasilitas perbankan yang modern, efisien, dan andal, mesin-mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) milik Bank Mandiri di berbagai titik strategis—seperti di Alfamart Simpang Lima Talang Ubi dan Indomaret Simpang Empat—kini lebih pantas disebut sebagai “bangkai besi berkarat”. Mesin-mesin tersebut sudah tidak layak pakai, usang, mangkrak, dan mati total dalam durasi berbulan-bulan hingga bertahun-tahun tanpa ada itikad perbaikan yang nyata dari pengelola cabang.

Kondisi mengenaskan ini bukan sekadar persoalan teknis semata, melainkan bentuk pengabaian hak-hak konsumen yang terang-terangan. Kemarahan publik pun tak lagi terbendung atas buruknya layanan dasar perbankan ini.

Habibi M Aridi, seorang warga Handayani Mulya sekaligus nasabah setia Bank Mandiri, meluapkan kekesalannya yang memuncak saat dihubungi oleh Media, Jumat (2/10/2026).

Dengan nada tegas, ia menyebut layanan ATM Mandiri di wilayah Pendopo sudah masuk kategori darurat dan parah.

“Rugi waktu, rugi potongan administrasi, dan yang paling menyiksa kami harus mengeluarkan biaya ekstra lagi karena terpaksa menarik tunai di ATM bank lain. Sekarang saya pribadi sudah lama memboikot dan tidak menggunakan ATM Mandiri lagi karena sering tertipu,” beber Habibi blak-blakan.

Kekecewaan Habibi beralasan. Seringkali, nasabah yang datang dari jauh dengan harapan bisa melakukan transaksi keuangan mendadak di ATM Alfamart Simpang Lima harus gigit jari mendapati mesin dalam keadaan mati atau rusak.

Baca juga:  Kapolres PALI Bagikan Ratusan Karung Beras Kepada PHL

Ironisnya, pelarian nasabah ke pusat fasilitas operasional utama di Kantor Cabang Pendopo Kompleks Pertamina pun tidak memberikan solusi berarti. Dari tiga unit mesin ATM yang tersedia di kantor cabang tersebut, terkadang hanya satu mesin yang berfungsi normal. Akibatnya, antrean panjang mengular, membuang waktu dan energi nasabah secara percuma.

“Saya melihat memang ada indikasi pembiaran dan tidak ada niat sedikit pun dari Kantor Cabang Pendopo untuk melakukan perbaikan permanen. Kerusakan mesin ATM Mandiri ini terjadi hampir setiap minggu. Bahkan, mesin ATM di Alfamart Simpang Lima Talang Ubi saat ini sudah mati total sejak dua hari lalu,” ketus Habibi tajam.

Secara sosiologis dan ekonomis, basis nasabah Bank Mandiri di Kota Pendopo dan sekitarnya tergolong sangat masif dan loyal. Ribuan transaksi berputar setiap hari di wilayah penyangga industri energi tersebut.

Namun, kontribusi finansial yang diberikan nasabah dibalas dengan pelayanan publik yang buruk, lamban, dan tidak manusiawi.

“Percuma menyandang status sebagai salah satu bank terbaik di Indonesia, tetapi untuk merawat dan memperbaiki kerusakan mesin ATM saja dibiarkan hingga bertahun-tahun lamanya. Ini preseden buruk dan pelecehan terhadap nasabah di PALI!” tegasnya.

Dinding Kebal Pimpinan Cabang: Alergi Konfirmasi dan Sembunyi di Balik “Rapat”
Buruknya kualitas pelayanan fisik di lapangan ternyata berkolerasi linear dengan bobroknya transparansi komunikasi birokrasi di internal Kantor Cabang Bank Mandiri Pendopo.

Namun, respons yang didapatkan hanyalah jalan buntu—mesin ATM rusak, diperbaiki sekadarnya, lalu rusak kembali tanpa solusi jangka panjang.

Yang lebih memprihatinkan, arogansi struktural tampak jelas dari sikap pimpinan tertinggi di kantor cabang tersebut.

Dalam tiga bulan berturut-turut (Juni, Juli, dan Agustus), upaya konfirmasi yang dilakukan oleh awak media tintamerah.co secara sistematis dihalangi.

Baca juga:  Saling Lempar, Sebenarnya di Tangan Siapa AMDAL Proyek PKS PT Aburahmi Didesa Panta Dewa PALI

Setiap kali disambangi untuk meminta klarifikasi pertanggungjawaban publik, Kepala Bank Mandiri Cabang Pendopo selalu tidak bisa ditemui, dan awak media hanya diarahkan kepada petugas customer service atau sekuriti dengan alasan klasik yang diulang-ulang: “Kepala Cabang sedang rapat.

“Alasan klise “sedang rapat” selama berbulan-bulan ini mengindikasikan bahwa manajemen cabang terkesan alergi terhadap kritik, lari dari tanggung jawab jurnalistik, dan berupaya menutup-nutupi borok tata kelola operasional mereka dari pengawasan publik.

Kasus mangkraknya ATM Mandiri di Pendopo PALI bukan lagi sekadar isu lokal biasa, melainkan cerminan kegagalan manajemen operasional daerah dalam menerjemahkan standar pelayanan prima (service excellence) perusahaan pelat merah.

Jika manajemen Kantor Cabang Mandiri Pendopo terus menunjukkan sikap acuh tak acuh, menutup diri dari media, dan membiarkan penderitaan nasabah berlarut-larut, maka sudah saatnya Kantor Pusat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turun tangan melakukan audit dan evaluasi total terhadap jajaran pimpinan Cabang Pendopo.

Nasabah PALI tidak butuh janji manis atau predikat bank terbaik di atas kertas; nasabah PALI butuh bukti nyata dan pelayanan yang layak! (J/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!