Jangan Asal Mengangkat Jabatan Adat Semende: Ia Sudah Melekat dalam Struktur Jeme Semende

Muara Enim//Linksumsel-Ada sesuatu yang harus dipahami dengan jernih ketika kita berbicara tentang adat Semende: jabatan adat bukan jabatan organisasi yang dapat diciptakan, dibagikan, atau diangkat sesuka hati.

Ia bukan kursi kekuasaan.

Bukan pula gelar kehormatan yang dapat diberikan kepada siapa saja hanya karena dianggap berjasa, dekat, memiliki kedudukan, atau dihormati secara sosial.

Dalam masyarakat adat Semende, banyak kedudukan adat telah melekat secara alamiah dalam struktur kekerabatan dan tatanan adat yang diwariskan turun-temurun.

Karena itu, jangan sampai sesuatu yang sudah memiliki tempat, fungsi dan dasar dalam struktur adat justru dibuat seolah-olah harus “diangkat” kembali melalui keputusan manusia.

Sebab ketika adat mulai diperlakukan seperti organisasi, saat itulah kita harus bertanya: apakah kita sedang melestarikan adat atau justru sedang mengubahnya?

Adat Semende Bukan Sekadar Nama dan Gelar

Adat bukan sekadar pakaian tradisional.

Bukan sekadar acara seremonial.

Bukan sekadar gelar yang terdengar agung.

Adat adalah sistem kehidupan.

Di dalam masyarakat Semende terdapat struktur yang memiliki hubungan dan fungsi masing-masing: Tunggu Tubang, Meraje, Jenang Meraje, Payung Meraje, Lebu Meraje, dan berbagai perangkat adat lainnya.

Masing-masing tidak berdiri di ruang kosong.

Ada hubungan kekerabatan.

Ada sejarah.

Ada tanggung jawab.

Ada hak dan kewajiban.

Ada tata hubungan yang telah diwariskan oleh leluhur.

Maka, ketika kita berbicara mengenai siapa yang “dituakan” dalam adat Semende, jangan menyederhanakannya menjadi persoalan siapa yang paling senior, paling terkenal, paling kaya, paling berpengaruh, atau paling tinggi kedudukannya dalam masyarakat.

Adat mempunyai ukurannya sendiri.

Yang menentukan bukan sekadar popularitas seseorang, tetapi struktur adat yang hidup dan diakui oleh masyarakat adat itu sendiri.

Meraje Bukan Jabatan yang Bisa Ditunjuk

Contoh paling nyata adalah Meraje dalam hubungan dengan Tunggu Tubang.

Dalam pemahaman adat Semende, Meraje memiliki hubungan kekerabatan yang melekat dengan Tunggu Tubang. Ia berkaitan dengan saudara laki-laki Tunggu Tubang, baik kakak maupun adik laki-laki, yang memiliki fungsi dan tanggung jawab dalam kehidupan keluarga serta tatanan adat.

Artinya, keberadaan Meraje bukan semata-mata lahir karena seseorang berkumpul dalam sebuah forum kemudian menunjuk seseorang untuk menduduki posisi tersebut.

Baca juga:  Menjaga Keamanan dan Kamtibmas Polsek Talang Ubi Gelar Patroli

Ada hubungan yang mendahuluinya.

Ada struktur yang melahirkannya.

Ada kekerabatan yang menjadi dasarnya.

Begitu pula dengan Jenang Meraje, Payung Meraje dan Lebu Meraje. Kedudukan tersebut merupakan bagian dari bangunan adat yang tidak semestinya dipisahkan dari struktur dan hubungan yang menjadi dasar keberadaannya.

Di sinilah masyarakat Semende harus berhati-hati.

Jangan sampai kedudukan yang sesungguhnya sudah melekat dalam sistem adat justru diperlakukan sebagai jabatan seremonial yang dapat diberikan kepada siapa saja.

Menghormati Orang Lain Tidak Berarti Mengubah Struktur Adat

Perlu ditegaskan: menghormati orang lain adalah sesuatu yang baik.

Masyarakat Semende tentu dapat menerima siapa pun sebagai saudara dalam kehidupan sosial. Siapa pun yang berbuat baik, membantu masyarakat, menjaga hubungan persaudaraan dan menghormati adat patut dihargai.

Tetapi ada batas yang tidak boleh dikaburkan.

Penghormatan sosial berbeda dengan kedudukan genealogis.

Seseorang dapat menjadi sahabat Jeme Semende tanpa harus menjadi bagian dari garis keturunan Semende.

Seseorang dapat menjadi tokoh yang sangat dihormati tanpa otomatis menjadi pemangku kedudukan adat tertentu.

Seseorang dapat berjasa besar tanpa berarti seluruh struktur adat dapat disematkan kepadanya.

Ini bukan persoalan merendahkan siapa pun.

Ini persoalan menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Justru dengan membedakan penghormatan sosial dan kedudukan adat, kita sedang menjaga kehormatan adat itu sendiri.

Jangan Sampai Adat Menjadi Ajang Bagi-Bagi Gelar

Di sinilah peringatan ini menjadi penting.

Jangan sampai ada kecenderungan menjadikan adat sebagai ruang untuk membagi-bagikan gelar kepada siapa pun yang dianggap pantas menurut ukuran sosial semata.

Sebab kalau semua kedudukan adat dapat diberikan melalui pengangkatan, maka pertanyaan berikutnya menjadi sangat sederhana:

Untuk apa kita memiliki struktur adat?

Kalau Meraje dapat ditunjuk kepada siapa saja, apa lagi makna hubungan Meraje dengan Tunggu Tubang?

Kalau Payung Meraje dapat diberikan kepada siapa saja, apa lagi dasar dan fungsi kedudukan tersebut?

Kalau Jenang Meraje dan Lebu Meraje dapat diciptakan atau dialihkan sesuka hati, bagaimana kita menjelaskan struktur itu kepada generasi Semende berikutnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk mencari pertentangan.

Baca juga:  Salurkan Paket Sembako Ke Kaum Lansia Bagian Dari Wakafkan Gaji Kades Sigam Gelumbang

Justru sebaliknya.

Pertanyaan itu diperlukan agar adat tidak kehilangan batas.

Adat Boleh Berkembang, Tetapi Jangan Kehilangan Akarnya

Tidak ada yang mengatakan adat tidak boleh berkembang.

Zaman berubah.

Masyarakat berubah.

Tantangan kehidupan juga berubah.

Adat tentu dapat berdialog dengan perkembangan zaman.

Namun, berkembang tidak sama dengan kehilangan jati diri.

Beradaptasi tidak berarti menghapus akar.

Modernisasi tidak boleh menjadi alasan untuk mengubah struktur adat tanpa dasar yang jelas.

Sebab adat yang kehilangan fondasinya pada akhirnya hanya akan menjadi simbol.

Namanya masih Semende.

Gelar-gelarnya masih disebut.

Seremoninya masih dilakukan.

Tetapi ruh dan struktur yang menjadi dasar keberadaannya perlahan menghilang.

Itulah yang harus diwaspadai.

Jangan Wariskan Gelar, Wariskan Pemahaman

Tantangan terbesar masyarakat adat Semende hari ini bukan hanya bagaimana mempertahankan nama adat.

Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menjelaskan adat kepada generasi muda secara benar.

Generasi muda harus memahami apa itu Tunggu Tubang.

Harus memahami siapa dan bagaimana kedudukan Meraje.

Harus memahami hubungan Jenang Meraje, Payung Meraje dan Lebu Meraje.

Harus mengetahui bahwa setiap kedudukan adat memiliki sejarah, fungsi, tanggung jawab dan batasnya.

Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal nama, tetapi tidak memahami maknanya.

Sebab ketika pengetahuan adat hilang, maka siapa pun akan mudah mengatakan:

“Ini bisa diangkat.”

“Ini bisa diberikan.”

“Ini bisa dipindahkan.”

Padahal belum tentu demikian.

Adat tidak boleh ditentukan hanya oleh siapa yang memiliki kekuasaan untuk menunjuk. Adat harus dipahami melalui tatanan yang hidup dalam masyarakat adat itu sendiri.

Jangan Biarkan Adat Kehilangan Makna Karena Salah Menempatkan Kedudukan

Masyarakat adat Semende tidak membutuhkan terlalu banyak gelar.

Yang dibutuhkan adalah keteguhan menjaga makna.

Tidak perlu semua orang diberi kedudukan adat untuk menunjukkan penghormatan.

Cukup hormati orang tersebut sebagai orang yang berjasa.

Cukup muliakan sebagai sahabat.

Cukup terima sebagai saudara.

Tetapi jangan mengubah struktur adat hanya untuk memberikan simbol penghormatan.

Sebab sebuah gelar mungkin hanya terdiri dari beberapa kata.

Namun di belakangnya bisa terdapat sejarah panjang, garis keturunan, tanggung jawab, dan amanah leluhur.

Mengubahnya sembarangan berarti mempertaruhkan lebih dari sekadar sebuah nama.

Baca juga:  Kapolres PALI Pimpin Sertijab Kabag Ops dan Kasat Tahti

Saatnya Jeme Semende Menjaga Adat dengan Pengetahuan

Karena itu, peringatan ini bukan ditujukan untuk memusuhi siapa pun.

Bukan pula untuk menutup pintu persaudaraan.

Justru sebaliknya.

Semakin kita menghormati orang lain, semakin kita harus menghormati adat sendiri.

Jangan karena ingin menghormati seseorang, kita justru mengorbankan aturan adat.

Jangan karena ingin memberikan penghargaan, kita mengubah struktur yang telah diwariskan leluhur.

Jangan karena ingin terlihat modern, kita menganggap semua hal dalam adat dapat dibuat dan dibentuk sesuka hati.

Dan jangan sampai generasi mendatang menerima warisan berupa gelar-gelar adat yang banyak, tetapi pemahaman adat yang kosong.

Sebab tugas generasi sekarang bukan menciptakan adat baru untuk menggantikan adat lama.

Tugas kita adalah memahami, menjaga, dan mewariskan adat dengan benar.

Penutup: Jangan Asal Mengangkat yang Sudah Melekat

Pada akhirnya, pesan ini sederhana.

Jangan asal mengangkat jabatan adat Semende.

Bukan karena masyarakat Semende menolak orang lain.

Bukan karena Jeme Semende tidak mau bersaudara.

Tetapi karena adat memiliki struktur dan tata aturan sendiri.

Apa yang telah melekat dalam hubungan kekerabatan dan struktur adat tidak semestinya diperlakukan seperti jabatan organisasi yang dapat diberikan melalui penunjukan.

Meraje mempunyai hubungan dengan Tunggu Tubang.

Begitu pula perangkat dan kedudukan adat lainnya memiliki tempat dalam struktur yang telah diwariskan.

Maka, jangan ubah adat menjadi sekadar gelar.

Jangan jadikan adat sebagai panggung penghormatan sesaat.

Jangan jadikan kedudukan adat sebagai kursi yang bisa dibagi-bagikan.

Dan jangan sampai atas nama menghormati seseorang, kita justru mengabaikan warisan leluhur.

Sebab adat yang kuat bukan adat yang paling banyak gelarnya, melainkan adat yang paling teguh menjaga makna, struktur, tanggung jawab dan jati dirinya.

Jeme Semende boleh berubah mengikuti zaman.

Tetapi jangan sampai berubah hingga lupa siapa dirinya.

Karena ketika struktur adat mulai diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat diangkat, diberikan, dan dipindahkan sesuka hati, yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah kedudukan.Yang sedang dipertaruhkan adalah marwah adat Semende itu sendiri.(j.red).

Oleh: Marshal (Pengamat Sosial, Politik dan Hukum Adat Semende)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!