PALI//Linksumsel — Kabar baik datang dari dunia pendidikan di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Setelah aktivitas belajar mengajar terganggu akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berpeluang segera diakhiri jika kondisi kualitas udara terus membaik.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten PALI mulai memberikan sinyal kemungkinan dibukanya kembali Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah. Keputusan tersebut akan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara dalam beberapa hari ke depan demi memastikan keselamatan dan kesehatan para siswa.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten PALI, Harun, S.H., mengatakan bahwa kondisi udara di wilayah PALI menunjukkan tren perbaikan. Namun, kepastian penghentian PJJ masih menunggu perkembangan kualitas udara hingga dua hari ke depan.
“Saat ini indikator udara di PALI mulai membaik. Jika tren positif ini bertahan, berkemungkinan besar PJJ akan resmi dihentikan dalam dua hari ini, dan anak-anak bisa belajar di sekolah seperti biasa,” ungkap Harun, Senin (19/10/2026).
Meski kondisi udara mulai menunjukkan perbaikan, Disdik PALI menegaskan bahwa keputusan untuk kembali menerapkan PTM tidak akan dilakukan secara terburu-buru.
Menurut Harun, keselamatan dan kesehatan peserta didik tetap menjadi prioritas utama. Karena itu, penentuan metode pembelajaran akan mempertimbangkan ketentuan yang berlaku serta data kualitas udara yang terukur.
Ia menjelaskan, berdasarkan Surat Edaran Nomor 20 Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pelaksanaan kegiatan belajar mengajar disesuaikan dengan kondisi kualitas udara berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Adapun kategori kualitas udara yang menjadi acuan dalam naskah tersebut meliputi:
Zona aman (ISPU 1–100): Pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan secara penuh.
Zona waspada (ISPU 101–200): Pembelajaran tatap muka dilaksanakan secara terbatas dengan penyesuaian jam pelajaran.
Zona bahaya (ISPU 201–300 ke atas): Pembelajaran Jarak Jauh diterapkan demi melindungi kesehatan peserta didik.
“Kita tidak bisa hanya melihat kondisi udara bersih secara kasatmata saja. Semua harus berbasis data yang akurat dan terukur,” tambah Harun.
Untuk memastikan kondisi tersebut, Disdik PALI terus berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) guna memantau perkembangan kualitas udara setiap hari.
Di tengah upaya pemulihan aktivitas pendidikan, pemerintah daerah dan masyarakat berharap intensitas hujan segera meningkat di wilayah PALI.
Hujan diharapkan dapat membantu mengurangi partikel asap yang masih tersisa akibat karhutla, sekaligus memperbaiki kualitas udara agar aktivitas masyarakat, khususnya kegiatan belajar mengajar, dapat kembali berjalan normal.
Apabila kondisi udara terus membaik dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan, para siswa di Kabupaten PALI berpeluang kembali mengikuti pembelajaran secara langsung di sekolah.
Meski demikian, keputusan penghentian PJJ tetap menunggu hasil pemantauan kualitas udara dan pengumuman resmi dari Disdik PALI. (J/red)
Link Sumsel Sumber Informasi Independen