Musim Panas! Debu Batu Bara dari Gerbong Kereta Api Babaranjang Jadi Sorotan Pengamat & Masyarakat

Muara Enim//Linksumsel-Pada musim panas ini, terpantau aktivitas gerbong kereta api (Babaranjang) yang mengangkut batu bara melalui rangkaian gerbong yang sangat panjang tersebut, tentunya mudah berterbangan akibat hembusan angin dan juga kondisi muatan yang mengering.

Akibatnya, dampak utamanya meliputi pencemaran udara, penurunan jarak pandang, serta gangguan kesehatan serius seperti sesak napas, batuk, dan resiko penyakit pernapasan bagi warga yang bermukim di sepanjang jalur rel kereta api.

Adapun beberapa dampak spesifik pada lingkungan dan langkah mitigasi yang umumnya ditetapkan meliputi: Gangguan Pernapasan : Partikel halus yang terhirup beresiko menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan memicu penyakit paru-paru jangka panjang.

Begitupun kualitas lingkungan, debu yang mengendap mengotori atap rumah warga, pekarangan, serta fasilitas umum, sehingga memerlukan pembersihan ekstra dilingkungan tempat tinggal.

Demikian adanya dampak debu bara yang berterbangan disaat musim panas saat ini, terlebih lagi, aktivitas gerbong kereta api babaranjang yang juga dengan perjalananya cukup panjang dari Muara Enim hingga ke Palembang tersebut, terpantau kondisi gerbong bermuatan batu bara itu, tidak terdapat pengamanan yang tentunya mustahil jika batu bara tersebut, tidak mengeluarkan debu-debu yang diterjang angin.

Apalagi, lokomotif yang menggandeng puluhan gerbong kereta api Babaranjang itu, rata-rata dengan kecepatan yang cukup kencang, kecuali jika kereta Babaranjang berhenti di salah satu stasiun kereta api.

Menanggapi adanya fenomena ini, Marshal, selaku Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat Indonesia, melalui penegasannya mengungkapkan, Mitigasi di Sumbernya bahwa guna meminimalisir penyebaran debu, perusahaan pengelola biasanya mewajibkan penyemprotan air atau penggunaan cairan pelapis pengikat debu (Coal Dust Suppressant atau Polimer) pada permukaan batu bara sebelum dan selama proses pengangkutan menggunakan kereta tersebut apakah sudah dilakukan?.

Baca juga:  Polsek Penukal Utara Gelar Razia Terpadu

Diketahui, lanjut Marshal bahwa di wilayah Sumatera Selatan, seperti kawasan Muara Enim dan Lahat, isu mengenai polusi debu ini sering dikeluhkan masyarakat setempat yang berada dekat dengan perlintasan kereta.
“Kita mendesak agar pemerintah daerah untuk secara berkala menuntut operator terkait untuk memperketat standar operasional prosedur (SOP) pengangkutan guna mengurangi keluhan masyarakat ,” tegas Marshal.(14/07/2026).

Marshal menambahkan, bahwa mengenai standar penyemprotan gerbong baru bara tersebut, apakah sudah dilakukan karena kita ketahui saat ini tengah pada musim panas yang tentunya kondisi semakin mengering dan timbul debu dimana-mana, baik itu debu dari batu bara maupun debu-debu dari faktor lainya.

Namun, berbahayanya debu baru bara tersebut karena partikel halusnya dapat terhirup hingga ke paru-paru. Paparan jangka panjangnya memicu penyakit pernapasan serius seperti Pneumokoniosis (paru-paru hitam),ISPA, dan. PPOK.

Selain itu, kata Marshal bahwa debu pekat di area terbuka dapat memicu iritasi mata, masalah kulit, hingga resiko ledakan. Dan bahaya utamanya dari debu batu bara tersebut, penyakit paru hitam (Coal Worker’s Pneumoconiosis) kondisi ini terjadi akibat endapan partikel karbon di jaringan paru-paru yang menyebabkannya menghitam, meradang, dan membentuk jaringan parut.

“Gejalanya seperti meliputi batuk dengan lendir hitam dan sesak nafas,dan menurut informasi dari CDC, penyakit ini bersifat permanen dan tidak bisa disembuhkan,” tambah Marshal, pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat Indonesia asal Muara Enim tersebut.

Diakhir tanggapnya terkait musim panas dan kering serta terkait bahanya debu batu bara tersebut, Marshal mengingatkan masyarakat yang dekat dengan perlintasan rel kereta api tersebut, diharapkan untuk dapat melindungi diri dari paparan debu, dan sangat disarankan untuk menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), seperti masker khusus, membatasi waktu berada di area debu, dan menjaga sirkulasi udara didalam ruangan tetap bersih, dan jika mengalami gejala batuk atau sesak napas, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan terdekat,” pungkas Marshal (14/07). (j.red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!