KEMERDEKAAN ATAU KEBABLASAN? KETIKA KARNAVAL BERUBAH MENJADI PANGGUNG TASYABBUH

KEMERDEKAAN ATAU KEBABLASAN? KETIKA KARNAVAL BERUBAH MENJADI PANGGUNG TASYABBUH

Muara Enim//Linksumsel-Ada yang keliru jika kemerdekaan hanya diterjemahkan sebagai kebebasan untuk melakukan apa saja.

Indonesia merdeka bukan untuk kehilangan arah. Indonesia merdeka bukan pula untuk menjadikan ruang publik sebagai panggung tanpa batas, tempat segala bentuk ekspresi dianggap sah hanya karena diberi label “kreativitas” dan “hiburan”.

Maka ketika karnaval dan pawai kemerdekaan mulai dihiasi penampilan yang menyerupai lawan jenis, persoalannya tidak lagi sesederhana soal kostum. Ia telah masuk ke wilayah yang jauh lebih sensitif: agama, identitas, kepantasan, budaya, dan arah nilai yang sedang kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Di titik inilah suara Majelis Ulama Indonesia (MUI) patut diperhatikan.

Bukan untuk mematikan kreativitas masyarakat, melainkan untuk mengingatkan bahwa kebebasan selalu memiliki batas ketika berhadapan dengan keyakinan dan norma yang hidup di tengah masyarakat.

Jangan Berlindung di Balik Kata “Hiburan”
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Abdul Muiz Ali, menyatakan bahwa laki-laki yang mengenakan pakaian menyerupai perempuan, termasuk dalam kegiatan karnaval atau pawai perayaan Hari Kemerdekaan RI, hukumnya haram dalam perspektif syariat Islam.

Menurutnya, tindakan tersebut termasuk *Tasyabbuh, yakni menyerupai lawan jenis* .

Pandangan itu disebut berlandaskan hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari mengenai larangan laki-laki menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki.
Pernyataan tersebut mungkin akan mengundang perdebatan.
Dan itu tidak masalah.

Sebab dalam masyarakat demokratis, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. Yang justru berbahaya adalah ketika masyarakat mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kebebasan berekspresi dan kebebasan tanpa kendali.

Kita sering menggunakan kata “hiburan” sebagai tameng.

Seolah-olah begitu sesuatu disebut hiburan, maka semua batas menjadi boleh diterobos.

Baca juga:  Firdaus Hasbullah: Hari Bhayangkara ke-80 Momentum Perkuat Profesionalisme dan Kepercayaan Publik terhadap Polri

Seolah-olah begitu sesuatu disebut kreativitas, maka kritik terhadapnya otomatis dianggap sebagai bentuk intoleransi.

Cara berpikir semacam itu justru berbahaya.
Sebab kreativitas tidak pernah tumbuh dari ketiadaan nilai.

Kreativitas yang matang justru mampu menemukan bentuk baru tanpa harus merusak batas kepantasan yang diyakini masyarakat.

Karnaval Kemerdekaan Jangan Kehilangan Ruhnya
Kita patut bertanya dengan jujur: untuk apa sebenarnya karnaval kemerdekaan digelar?

Apakah hanya untuk mencari tontonan yang paling heboh?

Apakah sekadar berlomba menjadi viral?

Ataukah ada pesan kebangsaan yang hendak disampaikan?

Kemerdekaan adalah warisan yang mahal.
Para pendahulu bangsa tidak mempertaruhkan nyawa agar generasi setelahnya hanya mewarisi pesta.

Mereka berjuang agar Indonesia berdiri sebagai bangsa yang merdeka, bermartabat, berdaulat, dan memiliki jati diri.

Karena itu, perayaan kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada kemeriahan.

Ia harus menjadi ruang pendidikan kebangsaan.

Anak-anak yang menonton karnaval hari ini adalah generasi yang akan menentukan wajah Indonesia beberapa dekade mendatang. Apa yang mereka lihat, dengar, dan anggap lumrah hari ini perlahan dapat menjadi standar budaya esok hari.

Di sinilah orang dewasa memiliki tanggung jawab.

Tidak semua yang mengundang tawa harus dipertontonkan.

Tidak semua yang menarik perhatian harus dipertahankan.

Dan tidak semua yang disebut kreativitas harus diterima tanpa kritik.

Ketika Identitas Menjadi Bahan Pertunjukan
Persoalan menjadi semakin menarik ketika ruang publik mulai menjadikan identitas sebagai bagian dari pertunjukan.

Masyarakat tentu memiliki kebebasan untuk berekspresi.

Tetapi dalam konteks masyarakat Indonesia yang religius dan menjunjung nilai budaya, ekspresi publik semestinya tetap mempertimbangkan norma yang hidup di sekitarnya.

Sebab ruang publik bukan ruang pribadi.

Ketika seseorang tampil di ruang pribadi, konsekuensinya berbeda dengan ketika penampilan tersebut dipertontonkan di hadapan ribuan orang, termasuk anak-anak dan masyarakat dengan latar keyakinan yang beragam.

Baca juga:  Pekerja Pabrik Sawit di PALI Tersiram Steam Panas, Ketua DPRD Desak Perusahaan Bertanggung Jawab

Karena itu, yang diperlukan bukan sekadar keberanian untuk berekspresi, tetapi juga kebijaksanaan untuk mengetahui kapan dan di mana sebuah ekspresi layak ditampilkan.

Kebebasan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kegaduhan.

Dan kegaduhan yang terus-menerus dipelihara pada akhirnya dapat menggeser batas kepantasan sedikit demi sedikit.

MUI Mengingatkan, Masyarakat Jangan Menutup Telinga
Kekhawatiran KH Abdul Muiz Ali mengenai kemungkinan munculnya agenda sosial yang tidak sejalan dengan nilai agama juga patut dibaca secara kritis dan proporsional.

Kita tidak boleh dengan mudah menuduh setiap ekspresi berbeda sebagai agenda tersembunyi.

Tetapi masyarakat juga tidak seharusnya terlalu naif.

Perubahan budaya selalu bergerak melalui sesuatu yang tampak kecil.

Apa yang hari ini dianggap sekadar lelucon, besok bisa menjadi kebiasaan.

Apa yang awalnya dianggap tidak lazim, lama-kelamaan dapat dianggap lumrah ketika terus-menerus dipertontonkan.

Di sinilah masyarakat membutuhkan daya kritis.

Bukan untuk membenci perbedaan.
Bukan untuk menghakimi seseorang.

Melainkan untuk bertanya: nilai apa yang sedang kita normalisasi di ruang publik?

Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan apakah sebuah kostum lucu atau tidak.

Jangan Sampai Kemerdekaan Kehilangan Martabat
Sudah saatnya perayaan kemerdekaan dikembalikan kepada ruhnya.

Perbanyak kegiatan yang memperkuat persaudaraan. Hidupkan gotong royong. Berikan ruang bagi kreativitas anak bangsa. Angkat budaya daerah.

Berikan penghargaan kepada pejuang lingkungan, guru, tenaga sosial, pelaku UMKM, dan masyarakat yang bekerja dalam senyap tetapi memberi manfaat nyata.

Dan tentu saja, perbanyak doa serta dzikir sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kita tidak kekurangan cara untuk merayakan kemerdekaan.

Yang kita perlukan adalah keberanian untuk memilih mana yang bermartabat.

Sebab kemerdekaan bukan berarti bangsa ini harus kehilangan kompas moral.

Baca juga:  Perkara Pengancaman Aroma Merayakan Lebaran Dalam Sel Polsek Penukal Abab

Kemerdekaan justru menuntut kita semakin dewasa dalam menggunakan kebebasan.

Jangan sampai bendera Merah Putih berkibar gagah, tetapi nilai-nilai yang seharusnya kita hormati justru kita biarkan tergerus di bawahnya.

Jangan sampai karnaval kemerdekaan berubah menjadi perlombaan mencari sensasi.

Jangan sampai kata “kreativitas” digunakan untuk membungkus sesuatu yang bagi sebagian masyarakat justru dianggap melampaui batas agama dan kepantasan.
Dan jangan sampai kita baru sadar setelah semuanya menjadi kebiasaan.

Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang membiarkan segala sesuatu atas nama kebebasan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merawat kebebasan tanpa kehilangan jati diri.
Kemerdekaan harus dirayakan.

Tetapi kemerdekaan juga harus dihormati.
Karena merah putih tidak hanya membutuhkan sorak-sorai. Ia membutuhkan generasi yang tahu bagaimana merayakan kebebasan tanpa kehilangan martabat.(j.red).

Oleh: Marshal (Pengamat Sosial Budaya dan Keagamaan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!